Rabu, 14 Januari 2009

I. PENDAHULUAN



A. Latar belakang
Ikan merupakan salah satu golongan hewan yang memiliki tulang belakang (Vertebrata) dan termasuk hewan berdarah dingin, hidup didalam air, bergerak dengan menggunakan sirip, dan sebagian besar ikan bernafas dengan menggunakan insang (Tim wikipedia,2008).
Selain itu ikan juga memiliki keunikan tersendiri jika dilihat dari fisiologinya seperti warna, bentuk tubuh dan warna. Ikan merupakan salah satu objek hiburan, karena memiliki keunikan diatas. Maka dari itu ikan hias banyak dikembangkan untuk memuaskan rasa keingintahuan manusia dan juga sebagai koleksi hiasan ataupun sebagai hobi.
Ikan hias cukup dikenal oleh masyarakat sebagai hiasan akuarium. Perkembangan ikan hias di Indonesia mengalami kemajuan yang terus meningkat, terutama ikan hias air tawar asli Indonesia. Dari sekian banyak jenis ikan hias, tidak semuanya telah dapat dibudidayakan. Dalam menternakkan ikan hias harus diperhatikan bahwa masing-masing jenis mempunyai sifat dan kebiasaan hidup yang berbeda-beda, misalnya dalam cara pemijahan, bertelur ataupun menyusun sarangnya.
Ikan guppy pada awalnya hidup diperairan tawar terutama perairan rawa. Keunikan ikan guppy adalah berkembangbiak dengan beranak selain itu juga ikan Guppy mudah untuk dikembangbiakkan. Umumnya ikan jantan memiliki bentuk tubuh yang lebih menarik dibandingkan dengan ikan betina. Ikan jantan umumnya memiliki tubuh yang lebih ramping, warna cerah dan sirip punggung dan ekor lebih panjang. Sedangkan ikam betina biasanya memiliki bentuk tubuh yanglebih gemuk , warna kurang cerah, sirip punggung kecil, sirip perut berupa sirip halus.
Ikan guppy terdiri dari berbagai macam variasi guppy ekor lebar (wide tail), guppy ekor panjang, (sword tail) dan guppy ekor pendek (short tail). Namun saat ini ada varietas baru yaitu ribbon atau swallow.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui hasil persilangan antara induk ikan hias yang disilangkan berdasarkan karakter fenotipnya.










































II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Sistematika
Sistematika ikan guppy adalah sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Klas : Pisces
Ordo : Cyprinodonoidei
Sub-ordo : Poecilioidei
Famili : Poecilidae
Genus : Poecilia
Spesies : Poecilia reticulata. .
Ikan guppy mudah di kembangbiakan namun ikan ini mudah terparuh karena kondisi perairan yang buruk. Ikan guppy pada dasarnya berwarna kecoklatan dengan variasi sisik disamping tubuh menyerupai pelangi.

B. Morfologi dan Tingkah Laku

Sepintas ikan ini mirip seperti burung merak yang memiliki ekor yang memikat, tanpa sirip ekornya ikan ini tidak berarti apa-apa. Karena sirip ekor ini juga lah maka terbentuk tubuh bagian depan yang biasa-biasa saja terlihat. Ikan ini dapat mencapai panjang 7 cm untuk ikan betina dan 3,75 cm untuk ikan jantan. Namun ikan jantan memiliki warna yang lebih menarik daripada ikan betina.
Seluruh sirip-siripnya berwarna loreng dan lebar. Bentuk dan ukuran tubuhnya persis platy variatus, bagian perut terutama pada betina membulat, sirip ekornya melebar seperti bentuk sebuah kipas. Bentuk tubuhnya cukup unik karena memiliki ekor yang lebar dan berwarna warni. Varietas lainnya adalah layer dengan sirip memanjang. Namun, slayer tersebut sering menjadi sasaran empuk parasit Lernaea sp. Penanganan yang kurang baik dapat menyebabkan sirip rusak atau sobek. Ikan guppy merupakan ikan yang sangat aktif bergerak.
Ikan jantan berbadan ramping dengan sirip lebih panjang, penampilannya menarik, gerakkannya lincah dan gesit. Sedangkan ikan yang betina sebaliknya dari yang jantan, ikan betina badannya gemuk, perutnya buncit, sirip normal, alat kelamin hanya berupa lubang. Ikan jantan umumnya memiliki sirip yang panjang,tubuhnya rampaing, warnanya lebih cerah, sirip punggung lebih panjang, kepalanya besar.
Pada saat akan kawin ikan jantan biasanya mengejar ikan betina, perkawinan terjadi tiga kalisehingga terjadi tiga kali kelahiran, waktu kelahirannya berkisar antara 3 minggun dan dalam satu induk ikan betina dapat mengahsiulkan 60 ekor anakan.
Ikan guppy termasuk ikan pemakan segala. Ikan ini dapat menerima semua jeni pakan, baik pakan hidup ataupun pakan buatan atau baik basah ataupun kering. Ikan guppy sangat sensitive terhadap perubahan lingkungan yang mendadakterutama fluktuasi suhu.

C. Reproduksi Ikan Guppy
Guppy adalah salah satu jenis ikan yang berkembangbiak dengan cara melahirkan. Anak ikan guppy yang lahir sudah dapat berenang dengan baik. Hal ini kerena proses pembuahan yang terjadi dalam tubuh yaitu pada saat organ gondopodium yang terletak pada sirip anal dimasukkan kedalam organ telur.
Ikan guppy termasuk ikan yeng produktif , untuk memijah ikan ini membutuhkan kisaran suhu 23-26oC.
Untuk perbedaan ikan jantan dan betina seperti yang telah dijelaskan diatas terdapat pada bentuk dan warna. Namun yang sangat membedakan ikan jantan dan betina ikan jantan memiliki alat kelamin yang dinamakan gonopodium yang menonjol dibelakang sirip perut. Ikan menghasilkan keturunan yang relatif sedikit namun dapat memijah sepanjang tahun dengan interval pemijahan berkisar antara empat minggu.


a. Persiapan Pemijahan
Tempat pemijahan yang cocok adalah bak semen atau aquarium. Bak pemijah sebaiknya tidak kurang dari 6-9 m2 dengan tinggi 0,5 m, sedangkan aquarium (80 x 45 x 40) cm. Pengairan untuk bak pemijahan akan lebih efisien bila di ambil dari saluran air yang ada, tetapi harus memenuhi syarat kualitas air khususnya suhu 25-27 oC, kesadahan sedang, dan pH air agak basa. Bak pemijahan di isi air setinggi 30 cm dan di tambahkan tanaman air yang memenuhi setengah dari permukaan air.
b. Pemijahan induk
Pilihlah induk yang berukuran relatif besar, bentuk tubuh yang mengembung serta mempunyai warna yang indah. Induk-induk yang telah dipilih dimasukkan dalam satu bak untuk beberapa pasang induk, namun apabila menghendaki keturunan tertentu dapat pula dilakukan dengan cara memisahkan dalam bak tersendiri sepasang-sepasang. Bak-bak pemijahan harus dikontrol setiap hari. Setelah lahir, anak-anak ikan harus cepat-cepat diambil dan dipisahkan dari induknya agar tidak dimakan oleh induknya.
Induk yang terpilih di masukkan ke dalam tempat pemijahan sebanyak 2 pasang induk dengan akuarum berbeda. Induk jantan 1/3 dari jumlah betina. Tidak lebih dari tujuh hari, benih tampak berkumpul di antara tanaman air atau berenang di pinggiran bak. Benih segera di tangkap lalu di pindahkan ke tempat pendederan (Daelamin, 2001)
Ikan guppy merupakan jenis ikan yang mengahsilkan anak dari melahirkan. Kemampuan guppy menghasilkan anak cukup tinggi di bandingkan dengan jenis ikan beranak lainnya, yaitu sekitar 80-125 ekor. Pertahankan produktivitasnya ini degan cara memberinya pakan kutu air atau cacing sutera secara rutin 3 kali sehari (Daelamin, 2001).



c. Pemeliharaan benih.
Anak-anak ikan yang baru lahir belum membutuhkan makanan, karena masih mengandung kuning telur (yolk egg). Setelah 4-5 hari anak ikan baru dapat diberi makanan berupa kutu air yang sudah disaring, atau kuning telur yang telah direbus dan dihancurkan. Setelah mencapai ukuran medium (2-3 cm) dapat diberikan makanan cacing, kemudian setelah mencapai ukuran dewasa (5-7 cm) dapat diberi makanan cuk. Disamping makanan alami dapat pula diberi makanan tambahan berupa cacing kering, agar-agar dll. Pemberian makanan sebaiknya 2 kali sehari, hendaknya jangan berlebihan, karena dapat menyebabkan pembusukan yang dapat meerusak kualitas air.Pergantian air. Air dalam bak atau aquarium jangan sampai kotor/keruh, karena dapat menyebabkan kematian anak ikan. Kotoran dapat dibersihkan setiap 2-3 hari sekali dengan cara disiphon, air yang terbuang pada waktu penyiphonan sebanyak 10-20% dapat diganti dengan air yang baru.
Dengan pemberian pakan yang cukup dan bergizi minsalnya infusori, tepung pelet dan kutu air sebanyak 3 kali sehari, benih bisa di panen pada usia 45 hari. Untuk mendapatkan ukuran ikan yang seragam perlu di lakukan seleksi. Ikan hasil seleksi di pisahkan berdasarkan ukurannya. Untuk memperoleh ikan layak jual, di perlukan waktu sekitar 1 bulan dalam pemeliharaan berikutnya.
Hal yang perlu di perhatikan dalam pemeliharaan ikan adalah sebagai berikut, Air yang diperlukan adalah air yang cukup mengandung Oksigen (O2) dan jernih, suhu air berkisar antara 15-27°C, pH yang disukai agak sedikit alkalis, yaitu berkisar 7-8, makanan yang diberikan dapat berupa makanan alami (cuk, cacing, kutu air) dan makanan buatan, diberikan secukupnya.






III. METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Genetika dan Pemuliaan Ikan dengan sampel ikan Guppy di laksanakan pada hari Kamis, 30 Oktober 2008 sampai dengan tanggal 13 November 2008. Praktikum dilaksanakan pukul 08.00 sampai dengan selesai dan bertempat di Laboratorium Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya Indralaya.

B. Alat dan bahan
Alat-alat yang di gunakan dalam persilangan ikan adalah sebagai berikut :
1 Akuarium ukuran 30 x 30 x 30 cm3 sebagai media perkawinan ikan.
2 Persilangan ikan cupang membutuhkan wadah botol selai, sebagai tempat ikan cupang betina sebelum di kawinkan dengan induk jantan, botol selai yang di gunakan sebanyak 2 buah.
3 Serak kecil, di gunakan untuk memindahkan induk ikan cupang ke tempat lain dan juga panen anak ikan.
4 Selang aerasi, batu aerator, untuk membantuk penyediaan oksigen terlarut dalam air saat penetasan telur.
5 Peralatan penunjang (ember wadah cacing, wadah kuning telur, penggerus, sendok dan kain saring.
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan saat menentukan keberhasilan praktikum. Dalam pelaksanaan praktikum ini, bahan-bahan yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :
a. Induk ikan hias (cupang, gupy, molly, platy) sesuaikan dengan kelompok, masing-masing sebanyak dua pasang / kelompok.
Persyaratan calon induk yang di gunakan :
- Berumur lebih dari 1 tahun
- Warna cerah, warna dasar solid
- Tidak ada kelainan fisik (tidak cacat)
- Organ tubuh lengkap
- Bentuk dan warna sirip-siripnya bagus
- Sehat, tidak terkena penyakit
- Gerakan gesit / lincah, tempramen tinggi (induk jantan)
b. Pakan induk ikan cupang berupa Tubifex sp, jentik nyamuk dan Daphnia sp. Pakan tersebut di pelihara di baskom beraerasi.
c. Pakan larva ikan berupa, kuning telur rebus dan Daphnia sp dapat di peroleh dengan cara membeli atau mengkultur sendiri.
d. Bahan kimia untuk mengantisipasi serangan parasit. Pada masa penetasan telur, serangan jamur pada telur sering terjadi, bahan yang dapat di gunakan untuk mengantisipasinya adalah methylenblue (MB)

C. Cara Kerja
Persiapan :
1. Bersihkan aquarium dengan menggunakan pembersih (kain dan sikat), lalu di bilas dengan sampai bersih dan tidak berbau sabun setelah aquarium di keringkan sampai benar-benar kering.
2 Aquarium di isi air bersih yang sudah di endapkan minimal 24 jam, atau menggunakan air yang berasal dari sumur tanah. Volume air dalam aquarium masing-masing lebih kurang 20 liter atau setinggi 10 cm.
3 Dalam aquarium di beri tali rapiah yang sudah di buat serat-serat sebagai media ikan jantan menempelkan busa (untuk cupang) sebagai sarangnya, dan menggunakan tumbuhan air seperti eceng gondok, kiambang atau hidrilla untuk ikan lainnya.





Perkawinan :
1. Induk ikan guppy yang sudah di pilih di masukkan dalam aquarium terpisah yaitu induk betina di masukkan dalam gelas selai sedangkan induk ikan jantan di biarkan dalam aquarium. Induk ikan hias yang lain di masukkan dalam aquarium secara berpasangan, namun pada saat induk betina sudah mengeluarkan telur atau anak, induk jantan di pisahkan.
2. Induk ikan di pelihara dengan baik, jantan maupun betina. Selama pemeliharaan di beri pakan Tubifex sp, kutu air atau jentik nyamuk, sehari 2 kali secara Adgibitum yaitu ikan kenyang.
3. Setelah dua atau tiga hari anak ikan sudah lahir dan berenag aktif didalam akuarium.
4. Sipon dan gantikanlah air pemeliharaan induk sebanyak 10 persen setiap 2 hari sekali.
Perawatan Larva
1 Larva yang baru berumur 1 hari belum di beri pakan. Pemberian pakan di berikan pada hari kedua setelah menetas. Pakan pertama yang di berikan adalah kuning telur yang sudah di haluskan.
2 Pemberian pakan Daphnia atau pakan buatan yang berbentuk serbuk setelah berumur lebih dari satu minggu.
3 Pelihara larva ikan sampai besar, minimal sudah dapat di bedakan morfologi (warna, jenis kelamin) ikan yang di hasilkan.
4 Sipon dan ganti air pemeliharaan kurang lebih 10 persen setiap 2 hari sekali.







IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tabel 1. Mengenal Keragaman Ciri Suatu Sifat
Ciri-ciri
Ikan betina
Ikan betina
Ikan jantan
Ikan jantan
Morfologi
Aquarium I
Aquarium II
Aquarium I
Aquarium II
A. Bentuk tubuh
- Sirip pungung
- Sirip ekor
- sirip perut


B. Warna tubuh
C. Jumlah total
D. Bentuk ekor

Lebih besar
Putih Transparan
Merah
Kuning memiliki bercak

Putih
-
Membundar

Lebih besar
Putih Transparan
Merah
Kuning memiliki bercak

Putih
-
Membundar
Kecil
Merah
Merah
Merah


Putih
-
Memanjang dan melebar
kecil
Putih transparan
Merah
Transparan dan terdapat bercak hitam
Putih
-
Memanjang dan meleber


B. Pembahasan
Ikan jantan berbadan ramping dengan sirip lebih panjang, penampilannya menarik, gerakkannya lincah dan gesit serta memiliki alat kelamin yang di sebut Gonopodium. Sedangkan ikan yang betina sebaliknya dari yang jantan, ikan betina badannya gemuk, perutnya buncit, sirip normal, alat kelamin hanya berupa lubang. Mempunyai gonopodium (berupa tonjolan dibelakang sirip perut) yang merupakan modifikasi sirip anal yang berupa menjadi sirip yang panjang,tubuhnya rampaing, warnanya lebih cerah, sirip punggung lebih panjang, kepalanya besar.

Induk harus sehat dan tidak tertempel parasit. Pilih induk yang betul-betul hitam bersih dan mengilap (sebagai bandingan : hitam aspal atau arang). Jangan sekali-kali memilih induk yang hitam burik. Umur induk sebaiknya tidak kurang dari 6 bulan dengan panjang tubuh ikan betina minimal 5 cm, sedangkan jantan 3 cm. Dibelakang sirip perut tidak ada gonopodium, tetapi berupa sirip halus, tubuhnya gemuk, warnanya kurang cerah, sirip punggung biasa, kepalanya agak runcing.
Kualitas air dalam pemeliharaan ikan guppy sangat di perlukan bagi perkembangan ikan guppy. Kualitas air ini meliputi kesadahan air (HD) dan keasaman air (pH) dan suhu. HD dan pH merupakan dua hal yang berbeda tetapi dapat saling mempengaruhi. Guppy dapat hidup dengan baik pada air yang tergolong lunak (soft) dengan tingkat kesadahan 8-10 HD atau setara dengan CaCO3 sebanyak 100-125 ppm. Bila sumber air yang di gunakan mempunyai tingkat kesadahan melebihi batas maksimum atau pada 10,5 HD maka molly tidak dapat hidup.
Untuk kondisi kadar CO2 yang meningkat seperti di malam hari dapat menyebabkan pH air naik, air dengan pH terlalu tinggi tidak cocok bagi ikan molly, sementara pH air yang rendahpun mempengaruhi kehidupan guppy. Air kotor dapat berakibat pH air menjadi rendah karena kondisi O2 terlalu dalam air berkurang sehingga ikan akan malas makan dan pertumbuhannya terganggu. Adapun pH normal untuk kehidupan molly adalah 6,5-7.
Pakan untuk guppy dapat berupa pakan alami maupun buatan. Beberapa jenis pakan alami segar antara lain cacing sutera (Tubifex worm), kutu air merah (Daphnia sp), jentik nyamuk (Mosquito larva), Infusoria (Paramecium sp) dan cacing merah (Blood worm), sedangkan pemberian pakan buatan di lakukan bila pakan alami tidak di jumpai.


V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat di peroleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Kawin silang merupakan salah satu cara yang bisa di lakukan pada hewan dan tumbuhan untuk mendapatkan strain yang baru atau varietas baru yang unggul dan memiliki kualitas yang baik.
2. Pemilihan induk yang baik dan mempunyai ciri khas merupakan salah satu tolak ukur dalam kawin silang ikan
3. Anakan hasilkan dari 2 pasang induk ikan Guppy berjumlah 16 anakan.
4. Sebelum selasai parktikum ikan banyak yang mati dikarenakan kuranya perawatan dan buruknya kualitas air di dalam aquarium.
5. Selama pemeliharaan ikan diberi pakan berupa kuning telur.

B. Saran
Saran untuk praktikum ini adalah untuk asistennya, terhadap praktikan haruslah bersifat tegas pada waktu-waktu tertentu. Kepada praktikannya tolong apa yang di perintahkan asistennya di jalankan dengan sebaik mungkin seperti melaksanakan jadwal piket yang telah di berikan dan untuk laboratorium mohon pihak yang terkait melengkapi sarana dan prasarana guna memperlancar kegiatan praktikum.










I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada tahun 1654, seorang penjudi bangsawan Perancis bernama Chevalier de Méré mengajukan masalah kepada Blaise Pascal sebagai berikut : “Dalam delapan kesempatan melempar dadu, seorang penjudi yang bertaruh dengan sejumlah uang tertentu harus memperoleh mata 1 untuk memenangkan taruhan. Tetapi setelah melakukan tiga lemparan yang semuanya gagal, permainan terpaksa dihentikan karena ada suatu gangguan. Bandar jelas tidak mau rugi, oleh karenanya dia harus menahan sebagian taruhan si Penjudi sebagai jaminan. Pertanyaannya, berapakah besar taruhan si Penjudi yang harus ditahan tersebut?”
Pada mulanya Pascal menganggap ini persoalan sepele yang bisa diselesaikan dengan logika dan aljabar biasa, tapi setelah berhari-hari gagal mendapatkan solusi ia mulai menganggap bahwa ini merupakan masalah pelik dan belum ada cabang matematika yang mempelajarinya. Ia lalu berkorespondensi dengan rekannya sesame matematikawan yang bernama Pierre de Fermat.
Setelah berkorespondensi dengan Fermat, akhirnya mereka berhasil menyelesaikan masalah ini. Hasil korespondensi mereka menjadi cikal perkembangan ilmu hitung peluang modern.
Dalam perkembangannya, ilmu hitung peluang menjadi sangat penting dan berguna dalam berbagai bidang, contohnya biologi, sosial, industri, antropologi, kependudukan, fisika, dan sebagainya. Sayangnya ilmu hitung peluang justru banyak digunakan bandar judi untuk menguras uang dari para penjudi, terutama para penjudi amatiran yang tidak mengerti ilmu peluang, sekaligus membodohinya dengan cara meluncurkan permainan-permainan yang tidak fair, yaitu secara matematis pasti merugikan penjudi dan menguntungkan bandar.
Sekilas gambaran di atas menceritakan tentang pentingnya mengetahui kaidah peluang. Salah satu penunjang mengapa Gregor Mendel berhasil membuat suatu model pewarisan yang kebenarannya diakui sampai saat ini adalah dengan cara
mencatat serta mengumpulkan data dalam jumlah banyak dan memanfaatkan metode-metode matematis untuk membantu menganalisis data yang dihasilkan tersebut. Untuk lebih mudah dan cepat memahami fenotip dan genotip generasi F2 dari percobaan Mendel, kita dapat menggunakan kaidah-kaidah peluang dalam perhitungannya.
Dalam membuat kesimpulan tentang suatu populasi, umumnya diperoleh dari data penelitian secara sampling (pengambilan contoh). Untuk itu diperlukan suatu uji matematis atau lebih tepatnya uji statistik agar dapat menganalisis data dan membuat kesimpulan dengan baik pada tingkat/selang kepercayaan tertentu. Salah satu uji statistik yang sering digunakan dalam menganalisis data percobaan genetika adalah uji khi-kuadrat (X2).

B. Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ni diharapkan praktikan dapat :
Menghitung peluang dan menghitung uji khi-kuadrat
Menggunakan uji khi-kuadrat dalam analisis genetika mendel














II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Peluang
Peluang adalah ukuran dari kemungkinan dan didefenisikan sebagai berikut :
Peluang Kejadian A = Jumlah Muncul Kejadian A
Jumlah Total Kejadian



Nilai peluang berkisar dari 0 (tidak mungkin terjadi) sampai dengan 1 (pasti terjadi). Bila sebuah mata uang logam yang kedua sisinya setimbang, salah satu sisi diberi tanda A dan sisi yang lain diberi tanda a. Maka peluang munculnya sisi A = ½. Peluang tersebut didapat dari banyaknya sisi A (=1) dibagi dengan banyaknya sisi terdapat pada mata uang tersebut (=2). Peluang yang sama juga berlaku untuk sisi a = ½ (Modul Praktikum Dasar-Dasar Genetika Ikan, 2007).

B. Peluang Dua Kejadian Bebas
Kejadian A bebas dari kejadian B bila : P (AB) = P (A) X P (B). Artinya : Timbulnya kejadian A tidak dipengaruhi munculnya kejadian B dan sebaliknya timbulnya kejadian B tidak dipengaruhi munculnya kejadian A. Bila dua buah koin mata uang yang masing-masing sisinya diberi tanda A1 dan a1 untuk koin pertama dan tanda A2 dan a2 untuk koin kedua, selanjutnya kedua koin tersebut dilemparkan secara bersamaan, maka hal ini akan merupakan dua kejadian yang bebas satu sama lain. Munculnya sisi A1 pada mata uang pertama tidak akan mempengaruhi munculnya salah satu sisi pada mata uang yang kedua (A2 ataupun a2). Karena kedua koin tersebut merupakan kejadian bebas, maka peluang munculnya secara serempak sisi A1 pada mata uang pertama dan sisi a2 pada mata uang yang kedua akan mengikuti kaidah peluang sebagai berikut ini :
P (A1a2) = P (A1) X P (a2)


Hal yang sama akan berlaku juga pada proses perkawinan. Jenis alel pada gamet betina (sel telur) dari tetua betina tidak mempengaruhi ataupun dipengaruhi oleh jenis alel gamet tetua jantan (sperma/serbuk sari), yang membuahi atau sebaliknya (Modul Praktikum Dasar-Dasar Genetika Ikan, 2007).

C. Uji Khi-Kuadrat (X2)
Dalam kajian genetik, kita akan dihadapkan pada pendugaan frekuensi teorik berdasarkan penyebaran data pengamatan, misalkan untuk kasus I (I = 1, 2,...k) diketahui frekuensi teorik sama dengan n1, n2,...nk. Dari hasil pengamatan untuk kasus-kasus tersebut diperoleh banyaknya individu berturut-turut adalah N1, N2,...Nk dengan jumlah total N : (N1 + N2 + .....Nk = N). Bila data itu mengikuti frekuensi teoritik, maka sebaran harapan data berturut-turut sama dengan (n1 x N), (n2 x N) ....., (nk x N). Untuk memutuskan dapat diterima atau tidaknya bahwa sebaran pengamatan sama (tidak berbeda nyata) atau sebaliknya berbeda nyata dengan sebaran dan harapan, perlu dilakukan pengujian statistik dengan menggunakan kriteria statistika X2 (Khi-Kuadrat). Untuk rincinya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2. Uji Khi-Kuadrat

Kasus

Pengamatan
Hipotesis (Frekuensi Teorik/Peluang)

Harapan

Khi-Kuadrat (X2)

1

N1

n1

n1 x N

(N1 – n1.N)2
n1.N

2

N2

n2

n2 x N

(N2 – n2.N)2
n2.N
.....
.....
.....
.....
.....

K

Nk

nk

nk x N

(Nk – nk.N)2
nk.N

Total

N

1

N
(Ni – ni.N)2
ni.N
atau disebut (X2-hitung)

Menurut Modul Praktikum Dasar-Dasar Genetika Ikan, 2007, keputusan diambil berdasarkan kriteria sebagai berikut :
1. Bila X2-hitung ≤ X2 db α, maka diterima bahwa sebaran pengamatan tidak berbeda nyata dengan sebaran harapan
2. Bila X2-hitung > X2 db α, maka sebaran pengamatan berbeda dari sebaran harapan
3. Nilai X2 db α, dapat ditemukan pada tabel sebaran khi-kuadrat dengan b (derajat bebas) = k – 1 ; dan α ditentukan berdasarkan keperluan, biasanya menggunakan α = 0,05 (atau selang kepercayaan 95%).
D. Hukum Keseimbangan Hardy-Weinberg
Populasi mendelian yang berukuran besar sangat memungkinkan terjadinya kawin acak (panmiksia) di antara individu-individu anggotanya. Artinya, tiap individu memiliki peluang yang sama untuk bertemu dengan individu lain, baik dengan genotipe yang sama maupun berbeda dengannya. Dengan adanya sistem kawin acak ini, frekuensi alel akan senantiasa konstan dari generasi ke generasi. Prinsip ini dirumuskan oleh G.H. Hardy, ahli matematika dari Inggris, dan W.Weinberg, dokter dari Jerman,. sehingga selanjutnya dikenal sebagai hukum keseimbangan Hardy-Weinberg.
Di samping kawin acak, ada persyaratan lain yang harus dipenuhi bagi berlakunya hukum keseimbangan Hardy-Weinberg, yaitu tidak terjadi migrasi, mutasi, dan seleksi. Dengan perkatan lain, terjadinya peristiwa-peristiwa ini serta sistem kawin yang tidak acak akan mengakibatkan perubahan frekuensi alel.
Deduksi terhadap hukum keseimbangan Hardy-Weinberg meliputi tiga langkah, yaitu (1) dari tetua kepada gamet-gamet yang dihasilkannya, (2) dari penggabungan gamet-gamet kepada genotipe zigot yang dibentuk, dan (3) dari genotipe zigot kepada frekuensi alel pada generasi keturunan. Secara lebih rinci ketiga langkah ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
Kembali kita misalkan bahwa pada generasi tetua terdapat genotipe AA, Aa, dan aa, masing-masing dengan frekuensi P, H, dan Q. Sementara itu, frekuensi alel A adalah p, sedang frekuensi alel a adalah q. Dari populasi generasi tetua ini akan dihasilkan dua macam gamet, yaitu A dan a. Frekuensi gamet A sama dengan frekuensi alel A (p). Begitu juga, frekuensi gamet a sama dengan frekuensi alel a (q).
Dengan berlangsungnya kawin acak, maka terjadi penggabungan gamet A dan a secara acak pula. Oleh karena itu, zigot-zigot yang terbentuk akan memilki frekuensi genotipe sebagai hasil kali frekuensi gamet yang bergabung. Pada Tabel 15.1 terlihat bahwa tiga macam genotipe zigot akan terbentuk, yakni AA, Aa, dan aa, masing-masing dengan frekuensi p2, 2pq, dan q2.
Tabel 3. Pembentukan zigot pada kawin acak




Gamet-gamet E
dan frekuensinya
A
(p)
a
(q)

Gamet-gamet G
dan frekuensinya
A (p)

AA
(p2)
Aa
(pq)
a (q)
Aa
(pq)
aa
(q2)

Oleh karena frekuensi genotipe zigot telah didapatkan, maka frekuensi alel pada populasi zigot atau populasi generasi keturunan dapat dihitung. Fekuensi alel A = p2 + ½ (2pq) = p2 + pq = p (p + q) = p. Frekuensi alel a = q2 + ½ (2pq) = q2 + pq = q (p + q) = q. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa frekuensi alel pada generasi keturunan sama dengan frekuensi alel pada generasi tetua.
Aplikasi hukum Hardy-Weinberg untuk perhitungan frekuensi alel autosomal. Kemampuan sesesorang untuk merasakan zat kimia feniltiokarbamid (PTC) disebabkan oleh alel autosomal dominan T. Individu dengan genotipe TT dan Tt dapat merasakan PTC, sedang individu tt tidak. Pada suatu pengujian terhadap 228 orang diperoleh bahwa hanya 160 di antaranya yang dapat merasakan PTC. Dari 160 orang ini dapat dihitung individu yang bergenotipe TT dan Tt sebagai berikut.
Individu yang tidak dapat merasakan PTC (genotipe tt) jumlahnya 228 - 160 = 68 sehingga frekuensi genotipe tt = 68/228 = 0,30. Dengan mudah dapat diperoleh frekuensi alel t = √ 0,30 = 0,55 dan frekuensi alel T = 1 - 0,55 = 0,45. Selanjutnya, frekuensi genotipe TT = (0,45)2 = 0,20, sedang frekuensi genotipe Tt = 2(0,45)(0,55) = 0,50. Banyaknya individu yang bergenotipe TT = 0,20 x 228 =46, sedang individu yang bergenotipe Tt = 0,50 x 228 = 114. Jika TT dijumlahkan dengan Tt, maka diperoleh individu sebanyak 160 orang, yang semuanya dapat merasakan PTC.
Aplikasi hukum Hardy-Weinberg untuk perhitungan frekuensi alel ganda. Salah satu contoh alel ganda yang sering dikemukakan adalah alel pengatur golongan darah sistem ABO pada manusia. Seperti telah kita bicarakan pada Bab II, sistem ini diatur oleh tiga buah alel, yaitu IA, IB, dan I0. Jika frekuensi ketiga alel tersebut masing-masing adalah p, q, dan r, maka sebaran frekuensi genotipenya = (p + q + r)2 = p2 + 2pq + 2pr + q2 + 2qr + q2. Frekuensi golongan darah A adalah penjumlahan frekuensi genotipe IA IA dan IA I0 , yakni p2 + 2pr. Demikian pula, frekuensi golongan darah B, AB, dan O pada suatu populasi dapat dicari dari sebaran frekuensi tersebut. Sebaliknya, dari data frekuensi golongan darah (fenotipe) dapat dihitung besarnya frekuensi alel.
Misalnya, dari 500 mahasiswa Fakultas Biologi Unsoed diketahui 196 orang bergolongan darah A, 73 golongan B, 205 O, dan 26 AB. Alel yang langsung dapat dihitung frekuensinya adalah I0 , yang merupakan akar kuadrat frekuensi O. Jadi, frekuensi I0 = √ 205/500 = 0,64. Selanjutnya, jumlah frekuensi A dan O = p2 + 2pr + r2 = (p + r)2 = (1 - q) 2 sehingga akar kuadrat frekuensi A + O = 1 - q. Dengan demikian, frekuensi IB (q) = 1 - akar kuadrat frekuensi A + O = 1 - √(196 + 205)/500 = 0,11. Dengan cara yang sama dapat diperoleh frekuensi alel IA (p) = 1 - √(73 + 205)/500 = 0,25.
Aplikasi hukum Hardy-Weinberg untuk perhitungan frekuensi alel rangkai X Telah kita ketahui bahwa pada manusia dan beberapa spesies organisme lainnya dikenal adanya jenis kelamin homogametik (XX) dan heterogametik (XY). Pada jenis kelamin homogametik hubungan matematika antara frekuensi alel yang terdapat pada kromosom X (rangkai X) dan frekuensi genotipenya mengikuti formula seperti pada autosom. Namun, pada jenis kelamin heterogametik formula tersebut tidak berlaku karena frekuensi alel rangkai X benar-benar sama dengan frekuensi genotipe. Pada jenis kelamin ini tiap individu hanya membawa sebuah alel untuk masing-masing lokus pada kromosom X-nya. Agar lebih jelas dapat dilihat Tabel 15.2 berikut ini.
Tabel 4. Hubungan matematika antara fekuensi alel rangkai X
dan frekuensi genotipe

Homogametik
Heterogametik
Genotipe
AA
Aa
aa
A
a
Frekuensi genotipe
P
H
Q
R
S
Alel
A
a
A
a
Frekuensi alel
pm = P + ½H
qm = Q + ½H
pt = R
qt = S
pm = frekuensi alel A pada individu homogametik
qm = frekuensi alel a pada individu homogametik
pt = frekuensi alel A pada individu heterogametik
qt = frekuensi alel a pada individu heterogametik












III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat
Praktikum “Teori Peluang dan Uji Khi-Kuadrat” ini dilaksanakan pada hari Kamis, 20 Oktober 2008 dimulai pada pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai di Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Indralaya.

B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu dua buah koin atau keping mata uang untuk menghitung peluang serta kertas untuk mencatat data hasil pengamatan.

C. Cara Kerja
Percobaan I
Siapkan satu keping koin atau satu keping mata uang setimbang
Masing-masing ditandai pada sisinya A dan a
Lemparkan mata uang dan sisi yang muncul di permukaan dicatat
Pelemparan mata uang dilakukan sampai 200 kali dan setiap pelemparan sisi yang muncul dicatat serta dijumlahkan pada tabel yang disediakan untuk laporan
Kemudian diuji apakah penyebaran data sesuai dengan hipotesis bahwa kedua alel setimbang, atau p (A) = p (a) = ½.




Percobaan II
Siapkan dua keping mata uang yang sisinya telah diberi tanda (A1 dan a1) untuk mata uang ke-1 dan (A2 dan a2) untuk mata uang ke-2
Lemparkan secara serentak kedua mata uang lalu catat kombinasi sisi mata uang yang muncul
Lakukan untuk masing-masing kombinasi sebanyak 200 kali pelemparan
Catatlah pada tabel yang telah disediakan
Ujilah apakah kemunculan sisi dari setiap mata uang itu bebas satu sama lain atau tidak






















IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Diketahui :
A = 105 A1A2 = 54 a1A2 = 50
a = 95 A1a2 = 60 a1a2 = 37
Penyelesaian :
Peluang A = Peluang muncul kejadian A
Peluang total kejadian
= 105 / 200 = 0,525
Peluang a = Peluang muncul kejadian a
Peluang total kejadian

= 95 / 200 = 0,475

B. Pembahasan
Pada praktikum “Teori Peluang dan Uji Khi-Kuadrat” ini dipakai dua keping uang logam untuk menghitung peluang. Pada percobaan pertama, munculnya dilemparkan mata uang yang telah diberi tanda di kedua sisinya. Dari 200 kali pelemparan, sisi A muncul sebanyak 105 kali, dan sisi a muncul sebanyak 95 kali.
Dari hasil tersebut, kita dapat menghitung peluang A serta peluang a. Untuk menghitung peluang A, digunakan rumus yaitu peluang muncul kejadian A dibagi dengan peluang total kejadian. Peluang muncul kejadian A adalah 105 kali. Sedangkan peluang total kejadian sebanyak 200 kali. Dari hasil pembagian tersebut didapat peluang A sebesar 0,525.
Selanjutnya untuk peluang a juga demikian. Peluang a adalah hasil dari pembagian antara peluang muncul kejadian a dengan peluang total kejadian.

IV. KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah :
1. Teori tentang peluang pertama kali ditemukan oleh Blaise Pascal dan Pierre de Fermat
2. Rumus untuk menghitung peluang A adalah peluang muncul kejadian A dibagi dengan peluang total kejadian
3. Peluang a adalah hasil pembagian antara peluang muncul kejadian a dengan peluang total kejadian
4. Cara kerja pada praktikum ini dengan cara melempar 200 kali koin yang sudah diberi tanda untuk mewakili masing masing sifat.

B. Saran
Adapun saran yang dapat praktikan berikan agar praktikum dapat berjalan dengan lancar sebelum menghitung peluang, kedua sisi pada mata uang diberi tanda dahulu agar tidak lama dalam melakukan pendataan, sebaiknya seluruh anggota kelompok bekerja. Ada yang melempar uang, serta ada yang mendata











I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pola pewarisan suatu sifat tidak selalu dapat dipelajari melalui percobaan persilangan buatan. Pada tanaman keras atau hewan-hewan dengan daur hidup panjang seperti ikan, misalnya, suatu persilangan baru akan memberikan hasil yang dapat dianalisis setelah kurun waktu yang tidak lama. Demikian pula, untuk mempelajari pola pewarisan sifat tertentu pada manusia jelas tidak mungkin dilakukan percobaan persilangan. Pola pewarisan sifat pada organisme-organisme semacam itu harus dianalisis menggunakan data hasil pengamatan langsung pada populasi yang ada.
Seluk-beluk pewarisan sifat pada tingkat populasi dipelajari pada cabang genetika yang disebut genetika populasi. Ruang lingkup genetika populasi secara garis besar oleh beberapa penulis dikatakan terdiri atas dua bagian, yaitu (1) deduksi prinsip-prinsip Mendel pada tingkat populasi, dan (2) mekanisme pewarisan sifat kuantitatif. Analisis genetik sifat-sifat kuantitatif hanya dapat dilakukan pada tingkat populasi karena individu tidak informatif.
Populasi mendelian yang berukuran besar sangat memungkinkan terjadinya kawin acak (panmiksia) di antara individu-individu anggotanya. Artinya, tiap individu memiliki peluang yang sama untuk bertemu dengan individu lain, baik dengan genotipe yang sama maupun berbeda dengannya. Dengan adanya sistem kawin acak ini, frekuensi alel akan senantiasa konstan dari generasi ke generasi. Prinsip ini dirumuskan oleh G.H. Hardy, ahli matematika dari Inggris, dan W.Weinberg, dokter dari Jerman,. sehingga selanjutnya dikenal sebagai hukum keseimbangan Hardy-Weinberg.
Di samping kawin acak, ada persyaratan lain yang harus dipenuhi bagi berlakunya hukum keseimbangan Hardy-Weinberg, yaitu tidak terjadi migrasi, mutasi, dan seleksi. Dengan perkatan lain, terjadinya peristiwa-peristiwa ini serta sistem kawin yang tidak acak akan mengakibatkan perubahan frekuensi alel.
Deduksi terhadap hukum keseimbangan Hardy-Weinberg meliputi tiga langkah, yaitu (1) dari tetua kepada gamet-gamet yang dihasilkannya, (2) dari penggabungan gamet-gamet kepada genotipe zigot yang dibentuk, dan (3) dari genotipe zigot kepada frekuensi alel pada generasi keturunan. Secara lebih rinci ketiga langkah ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
Poses persilangan yang belangsung pada ikan terlebih dahulu diseleksi calon induk yang baik dan pengetahuan teknik perkawinan kawin yang benar. Disamping itu perlu di ketahui dahulu tentang lingkuangan tang cocok untuk ikan melakukan perwawinan atau pembuahan telur. Didalam dunia perikanan perkawinan pada ikan dikenal sebagai pemijahan. Pengausaan teknik dan kesesuaian lingkuangan yang diinginkan oleh ikan diharapkan agar nantinya akan menghasilkan keturunan yang memiliki kualitas yang baik pula. Untuk itu dalam kawin silang maka pemilihan calon induk harus diadakan seleksi terlebih dahulu (Susanto, 1997).

B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Agar praktikan mengetahui hasil persilangan antara induk ikan hias yang disilangkan berdasarkan karakter fenotipnya
2. Agar praktikan bisa melakukan sendiri teknik kawin silang pada ikan



















II. TINJAUAN PUSTAKA
Genetika adalah ilmu yang mempelajari sifat-sifat keturunan dari mahluk hidup. Dalam ilmu genetika juga dikenal istilah pewarisan. Pewarisan yang terjadi adalah merupakan pewarisan sifat. Untuk mempelajari pola pewarisan sifat pada tingkat populasi terlebih dahulu perlu difahami pengertian populasi dalam arti genetika atau lazim disebut juga populasi Mendelian. Populasi mendelian ialah sekelompok individu suatu spesies yang bereproduksi secara seksual, hidup di tempat tertentu pada saat yang sama, dan di antara mereka terjadi perkawinan (interbreeding) sehingga masing-masing akan memberikan kontribusi genetik ke dalam lungkang gen (gene pool), yaitu sekumpulan informasi genetik yang dibawa oleh semua individu di dalam populasi.
Deskripsi susunan genetik suatu populasi mendelian dapat diperoleh apabila kita mengetahui macam genotipe yang ada dan juga banyaknya masing-masing genotipe tersebut. Sebagai contoh, di dalam populasi tertentu terdapat tiga macam genotipe, yaitu AA, Aa, dan aa. Maka, proporsi atau persentase genotipe AA, Aa, dan aa akan menggambarkan susunan genetik populasi tempat mereka berada. Adapun nilai proporsi atau persentase genotipe tersebut dikenal dengan istilah frekuensi genotipe. Jadi, frekuensi genotipe dapat dikatakan sebagai proporsi atau persentase genotipe tertentu di dalam suatu populasi. Dengan perkataan lain, dapat juga didefinisikan bahwa frekuensi genotipe adalah proporsi atau persentase individu di dalam suatu populasi yang tergolong ke dalam genotipe tertentu. Pada contoh di atas jika banyaknya genotipe AA, Aa, dan aa masing-masing 30, 50, dan 20 individu, maka frekuensi genotipe AA = 0,30 (30%), Aa = 0,50 (50%), dan aa = 0,20 (20%).
Sifat-sifat keturunan merupakan sifat-sifat yang dimiliki oleh induk yang nantinya akan diturunkan kepada anak-anaknya, baik organisme yang berkembang secara bertelur maupun beranak. Sifat keturunan ini dapat berupa genotif maupun fenotif. Timbulnya sifat-sifat fenotif maupun genotif ini dipengaruhi oleh interaksi antar gen. Dimana munculnya fenotif (misalnya ekor ikan, bentuk tubuh ikan, warna tubuh) yang tidak sama persis dengan induknya merupakan hasil interaksi antar gen-gen dari induknya. Interaksi antar gen tersebut saling mempengaruhi satu sama lainnya (Lingga, 1997).

Di samping dengan melihat macam dan jumlah genotipenya, susunan genetik suatu populasi dapat juga dideskripsi atas dasar keberadaan gennya. Hal ini karena populasi dalam arti genetika, seperti telah dikatakan di atas, bukan sekedar kumpulan individu, melainkan kumpulan individu yang dapat melangsungkan perkawinan sehingga terjadi transmisi gen dari generasi ke generasi. Dalam proses transmisi ini, genotipe tetua (parental) akan dibongkar dan dirakit kembali menjadi genotipe keturunannya melalui segregasi dan rekombinasi gen-gen yang dibawa oleh tiap gamet yang terbentuk, sementara gen-gen itu sendiri akan mengalami kesinambungan (kontinyuitas). Dengan demikian, deskripsi susunan genetik populasi dilihat dari gen-gen yang terdapat di dalamnya sebenarnya justru lebih bermakna bila dibandingkan dengan tinjauan dari genotipenya.
Susunan genetik suatu populasi ditinjau dari gen-gen yang ada dinyatakan sebagai frekuensi gen, atau disebut juga frekuensi alel, yaitu proporsi atau persentase alel tertentu pada suatu lokus. Jika kita gunakan contoh perhitungan frekuensi genotipe tersebut di atas, maka frekuensi alelnya dapat dihitung sebagai berikut.

AA
Aa
aa
Total
Banyaknya individu
30
50
20
100
200Banyaknya alel A
60
50
-
110
Banyaknya alel a
-
50
40
90
Karena di dalam tiap individu AA terdapat dua buah alel A, maka di dalam populasi yang mempunyai 30 individu AA terdapat 60 alel A. Demikian juga, karena tiap individu Aa membawa sebuah alel A, maka populasi yang mempunyai 50 individu Aa akan membawa 50 alel A. Sementara itu, pada individu aa dengan sendirinya tidak terdapat alel A, sehingga secara keseluruhan banyaknya alel A di dalam populasi tersebut adalah 60 + 50 + 0 = 110. Dengan cara yang sama dapat dihitung banyaknya alel a di dalam populasi, yaitu 0 + 50 + 40 = 90. Oleh karena itu, frekuensi alel A = 110/200 = 0,55 (55%), sedang frekuensi a = 90/200 = 0,45 (45%). Frekuensi alel berkisar dari 0 hingga 1. Suatu populasi yang mempunyai alel dengan frekuensi = 1 dikatakan mengalami fiksasi untuk alel tersebut.
Sifat dominan merupakan sifat yang mendominasi dari sifat induknya dan menutupi sifat resesif. Sedangkan sifat resesif adalah sifat yang ditutupi oleh sifat dominan dan merupakan sifat yang dikalahkan. Dengan adanya kawin silang ini, diharapkan agar varietas ikan yang sesuai dengan keinginan breeder dapat diciptakan, sebagai penampilan ikan yang dihasilkan menjadi lebih menarik dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi di pasarnya (Lingga, 1997).
Proses persilangan atau perkawiana pada ikan perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini meliputi: pemilihan spesies dan strain, umur dan ukuran induk serta genetik ikan yang akan disilangkan. Faktor gen yang sangat menentukan dan mempengaruhi hasil perkawinan yang nantinya akan diturunkan kepada keturunannya.



























III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat
Praktikum Genetika dan Pemuliaan Ikan dengan sampel ikan Guppy di laksanakan pada hari Kamis, 30 Oktober 2008 sampai dengan tanggal 13 November 2008. Praktikum dilaksanakan pukul 08.00 sampai dengan selesai dan bertempat di Laboratorium Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya Indralaya.

B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :
Akuarium ukuran 20x20x20 cm3 sebagai media perkawinan ikan, akuarium yang digunakan sebanyak 10 buah masig-masing kelompok mendapat dua akuarium
Selang aerasi, batu aerator untuk membantu penyediaan oksigen terlarut dalam air saat penetasan telur
Peralatan penunjang (ember, penggerus, sendok, kain saring, dan lain-lain)

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :
Induk ikan hias sebanyak 2 pasang per kelompok
Pakan induk berupa cacing tubifex dan kuning telur
Obat-obatan untuk mengantisipasi serangan parasit seperti methylenblue (MB)

B. Cara Kerja
Adapun cara kerjanya adalah sebagai berikut:
Bersihkan akuarium dengan menggunakan pembersih (kain dan sikat), lalu dibilas dengan air sampai bersih dan tidak berbau sabun setelah akuarium dikeringkan sampai benar-benar kering
Akuarium diisi air bersih yang sudah diendapkan minimal 24 jam, atau menggunakan air yang berasal dari sumur tanah. Volume air dalam akuarium masing-masing lebih kurang 20 liter atau setinggi 10 cm
Induk ikan hias dipelihara dengan baik. Selama pemeliharaan diberi pakan cacing tubifex atau kutu air sehari 2 kali
Sipon dan gantilah air pemeliharaan induk sebanyak 10% setiap 2 hari sekali























IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Pengamatan Minggu Pertama
Hari
Waktu
Suhu
Jumlah anakan / ket
Kamis

Jum’at

Sabtu

Minggu

Senin

Selasa

Rabu
08.00 wib
12.00 wib
08.00 wib
12.00 wib
08.00 wib
12.00 wib
08.00 wib
12.00 wib
08.00 wib
12.00 wib
08.00 wib
12.00 wib
08.00 wib
12.00 wib



26 oC
24 oC
29 oC
30 oC
27 oC
28 oC
29 oC
29 oC
29 oC
30 oC
29 oC
29 oC
30 oC
30 oC


-
-
7 anakan pada akuarium satu
-
-
-
1 anakan mati pada aquarium 1
9 anakan pada aquarium 2
1 anakan mati pada aquarium 2
-
1 anakan mati pada aquarium 2
-
-
-
Jumlah












Pengamatan Minggu Kedua
Hari
Waktu
Suhu
Jumlah anakan / ket
Kamis

Jum’at

Sabtu

Minggu

Senin

Selasa

Rabu
08.00 wib
12.00 wib
08.00 wib
12.00 wib
08.00 wib
12.00 wib
08.00 wib
12.00 wib
08.00 wib
12.00 wib
08.00 wib
12.00 wib
08.00 wib
12.00 wib



29 oC
30 oC
30 oC
31 oC
30 oC
30 oC
30 oC
31 oC
30 oC
29 oC
29 oC
30 oC
29 oC
30 oC


-
-
Induk betina mati pada aquareium 1
-
-
-
Induk jantan mati pada aquarium 2
-
-
Anakan mati 2 ekor pada aquarium ke I
-
Ikan mati semua
-

Pada praktikum ini kami melakukan persilangan ikan Guppy (Poecilia reticulata). Pertama-tama kami membeli dua pasang ikan guppy jantan dan betina. Ikan jantan ditunjukkan dengan ciri-ciri yaitu ekornya lancip dan warnanya pun lebih cerah. Sedangkan ikan betina ekornya membulat dan warnanya tidak seterang jantan.
Hasil pengamatan pada minggu pertama dilakukan pengamatan bentuk morfologi ikan saja dantaranya warna, bentuk sirip dan pengamatan totol pada tubuh ikian. Setelah induk dimasukkkan kedalam masing-masing aquarium secara berpasang pasangan pada hari kedua ikan sudah menghasilakan anakan 7 ekor pada aquarium 1, pada hari keempat anakan ikan mati sebanyak 1 ekor. Namun pada hari yang sama pada aquarium 2 induk menghasilkan 9 anakan.


Setelah satu hari mati satu ekur begitu juga pada hari beriukutnya hari keenam ikan mati satu. Pada hari kesembilan indukan jantan mati pada aquarium 1 dan kejadian yang sama juga terjadi pada hari kesebelas ikan indukan betina pada aquarium dua juga mati. Setelah beberapa hari pemeliharaan ikan terus diberi pakan berupa kuning telur yang direbus. Hingga pada akhirnya ikan anakan dan indukkan hingga sebelum selesai pelaksanaan praktikum sudah mati dan hanya terdapat beberapa ikan saja yang dapat bertahan namun pada akhirnya ikan tersebut mati juga. Ini disebabkan karena kuranya perawatan dari praktikan dan buruknya kualitas air yang ada.
Selama pemeliharaan, pakan yang kami berikan yaitu kuning telur sedangkan untk induk ikan Guppy diber pakan cacing cubifex. Agar tidak terlihat kotor karena sisa pakan yang tidak termakan ikan ataupun sisa atau kotoran ikan yang berada dalam akuarium maka likaukan penyiponan secara rutin. Selain pakan, diberikan juga methylenblue (MB) agar ikan tahan terhadap penyakit.
Suhu yang kami amati berbeda-beda. Saat pagi hari yaitu sekitar pukul 08.00 WIB, suhu akuarium ialah 270C. Sedangkan pada siang hari suhunya berubah menjadi 280C. Namun menurut Effendi (2003) suhu yang baik untuk pertumbuhsn iksn berkisar antara 27-31 oC.

















V. KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah :
· Kawin silang merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan pada hewan dan tumbuhan untuk mendapatkan strain yang baru atau varietas baru yang unggul dan memiliki kualitas yang baik
· Kawin silang dapat juga dilakukan untuk mengidentifikasi suatu penyakit pada ikan
· Penambahan tanaman air pun ada tujuannya selain memang dibutuhkan oleh ikan sebagai pelindung terhadap matahari juga berfungsi penyegar dan menambah keindahan akuarium.
· Untuk mendapatkan Guppy yang berkualitas diperlukan indukan yang berkualitas pula dan untuk menyilangkan antara tipe yang berbeda harus yang berkualitas
· Selama pemeliharaan berlangsung ikan diberi pakan berupa kuning telur dan cacing tubifex.

B. Saran
Adapun saran yang dapat praktikan berikan agar praktikum dapat berjalan dengan lancar antara lain :
1. Indukan yang digunakan untuk kawin silang hendaknya yang sudah matang gonadnya dan berkualitas bagus.
2. Penyiponan harus sering dilakukan agar tidak terjadi penumpukan kotoran yang dapat menyebabkan kematian pada ikan.








LAPORAN TETAP PRAKTIKUM
GENETIKA DAN PEMULIAAN IKAN




OLEH :
EKA SAPUTRA
NIM. 05071009004










PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar